Lontaran Awan Panas Gunung Merapi Diprediksi Bisa Mencapai Radius 5 KM

Darrel - 06/11/2020
Lontaran Awan Panas Gunung Merapi Diprediksi Bisa Mencapai Radius 5 KM
 - (www.darrel.id)
Penulis
|
Editor

Yogyakarta, Darrel.id – BPPTKG menaikkan status Gunung Merapi dari level waspada menjadi siaga. Warga diminta waspada dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

“Aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk. Sehubungan dengan hal tersebut maka status aktivitas Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB,” kata Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida dalam keterangannya, Kamis (5/11).

Untuk diketahui, Gunung Merapi berstatus waspada sejak 21 Mei 2018. Peningkatan status ini ditetapkan hari ini pada pukul 12.00 WIB. Hanik menjelaskan pasca erupsi besar 2010, Merapi mengalami erupsi magmatis kembali pada 11 Agustus 2018 yang berlangsung sampai bulan September 2019.

Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, Merapi kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif sampai dengan 21 Juni 2020.

“Aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini,” ucap Hanik.

Hanik menjelaskan kronologi data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, yaitu pertama setelah letusan eksplosif 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu VA, vulkanik dangkal (VB) dan fase banyak (MP) mulai meningkat.

Data beberapa hari terakhir, laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Energi kumulatif gempa (VT dan MP) dalam setahun sebesar 58 GJ.

“Kondisi data pemantauan di atas sudah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava 26 April 2006, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010,” tegasnya.

Dari data kegempaan dan deformasi, Gunung Merapi berpotensi terjadi letusan eksplosif. Ancaman bahaya dari kondisi ini salah satunya lontaran material dan awan panas sejauh maksimal 5 kilometer.

“Sampai saat ini kegempaan dan deformasi masih terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut dimungkinkan terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif,” ujarnya.

“Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awan panas sejauh maksimal 5 km,” sambungnya.

Lebih lanjut, Hanik menjelaskan sampai saat ini belum terbentuk kubah lava baru pada Gunung Merapi. Hal tersebut berdasarkan pada pengamatan morfologi kawah Merapi dengan drone.

“Berdasarkan pengamatan morfologi kawah Merapi dengan metode foto udara (drone) pada tanggal 3 November 2020 belum terlihat adanya kubah lava baru,” jelasnya.(dtc/ba)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X